Merajut Nilai Cinta dan Ekoteologi dalam Pengabdian Mahasiswa KKN
Sebagai dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Ternate sekaligus pembimbing KKN tahun ini, saya memulai lembar pengabdian ini dengan rasa syukur dan harap. Kegiatan Kuliah Kerja Nyata yang akan dilaksanakan oleh para mahasiswa ke berbagai wilayah Halmahera dan pesisir Ternate bukan hanya momentum akademik, tetapi juga bagian dari perjalanan spiritual, sosial, dan ekologis. Dengan mengangkat tema “Harmoni Ekoteologi: Tumbuh dan Berkembang Melalui Pengabdian,” KKN ini diarahkan bukan hanya untuk memberi manfaat praktis, tapi juga menanamkan kesadaran keberagamaan yang menyatu dengan kepedulian terhadap alam dan sesama.
Kawasan Halmahera dan pesisir Ternate menyimpan kearifan lokal yang kaya, namun juga menghadapi tantangan yang nyata: abrasi, pencemaran laut, penggundulan hutan, krisis air bersih, serta persoalan sosial dan pendidikan. Dalam konteks ini, kehadiran mahasiswa bukan hanya sebagai pelaksana program, melainkan sebagai pembelajar yang rendah hati dan agen transformasi. Maka penting bagi mereka untuk membawa nilai-nilai yang bukan sekadar teknis, tapi menyentuh sisi terdalam dari manusia dan lingkungan. Inilah mengapa pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sangat relevan untuk dikolaborasikan.
Kurikulum Berbasis Cinta yang dicanangkan oleh Kementerian Agama menekankan nilai-nilai cinta kepada Tuhan, manusia, dan alam sebagai inti dari proses pendidikan. Dalam konteks KKN, hal ini berarti mahasiswa harus mampu menyebarkan nilai-nilai kasih sayang, empati, dan kesadaran ekologis dalam setiap langkah mereka di tengah masyarakat. Bukan dengan ceramah yang kaku, tapi melalui kehadiran yang penuh ketulusan, pelayanan yang ramah, dan program-program yang kontekstual dengan kehidupan warga.
Saya mendorong mahasiswa untuk tidak datang dengan sikap menggurui, melainkan hadir sebagai saudara yang belajar bersama warga. Mereka harus menyadari bahwa pendidikan bukan hanya berada di ruang kelas, tapi juga di kebun warga, di pinggir pantai yang mulai terkikis, di sungai yang mulai tercemar, atau di musala kecil tempat anak-anak belajar mengaji. Di sanalah cinta harus ditanam: dengan mendengar, menemani, dan memahami kehidupan masyarakat dari dekat.
Salah satu bentuk konkret yang direncanakan mahasiswa adalah program “Masjid Ramah Alam”, di mana masjid difungsikan bukan hanya sebagai tempat ibadah ritual, tapi juga sebagai pusat edukasi lingkungan dan solidaritas sosial. Ada juga rencana “Kelas Alam untuk Anak-anak” di pesisir, yang memadukan pendidikan nilai Islam dengan cinta terhadap ciptaan Allah, termasuk laut dan hutan sekitar. Ini adalah bentuk terapan langsung dari nilai ekoteologi yang berpijak pada semangat cinta.
Pendekatan ekoteologi berbasis cinta juga akan membimbing mahasiswa untuk melihat persoalan lingkungan bukan sebagai hal teknis semata, tetapi sebagai krisis spiritual. Merusak hutan bukan hanya dosa ekologis, tapi juga pelanggaran terhadap amanah ilahi. Maka memperbaikinya, menjaga laut, membersihkan sungai, atau menanam pohon, adalah bentuk ibadah yang tak kalah nilainya dari sujud di sajadah. Inilah pesan besar yang ingin kami tanamkan sejak awal: bahwa mencintai Allah harus dibuktikan dengan mencintai bumi-Nya.
Saya yakin, pendekatan seperti ini akan lebih menyentuh hati masyarakat. Di kampung-kampung Halmahera, banyak warga masih sangat menghargai nilai-nilai agama, namun kadang belum melihat keterkaitannya dengan kelestarian alam. Di pesisir Ternate, tradisi maritim masih kuat, namun kesadaran akan sampah laut dan ekosistem pesisir perlu terus dibangun. Mahasiswa, dalam kapasitasnya sebagai duta pendidikan Islam, bisa menjadi jembatan antara nilai-nilai Islam dan praktik keberlanjutan.
Sebagai pembimbing, tugas saya bukan hanya memantau program, tetapi juga membina kesadaran batin mahasiswa agar tetap berada di jalur cinta. Cinta dalam arti spiritual yakni niat yang tulus karena Allah. Cinta dalam arti sosial—yakni empati kepada masyarakat. Dan cinta dalam arti ekologis yakni kepedulian terhadap lingkungan. Tiga bentuk cinta inilah yang menjadi ruh dari KKN yang akan dijalani.
Saya berharap, saat KKN ini berakhir kelak, yang tertinggal bukan hanya data kegiatan atau laporan administrasi, tetapi jejak cinta yang hidup dalam ingatan warga. Cinta itu bisa berupa pohon yang tumbuh, anak yang tersenyum karena belajar, atau warga yang mulai memilah sampah. Sebab KKN bukan tentang siapa yang paling banyak memberi, tetapi siapa yang paling ikhlas hadir untuk belajar bersama dan mencintai.
Dengan menggabungkan semangat Harmoni Ekoteologi dan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta, saya percaya KKN tahun ini akan menjadi ruang yang subur bagi tumbuhnya insan-insan pendidik Islam yang bukan hanya cerdas intelektual, tapi juga kuat kasih sayang, lembut jiwa, dan tangguh dalam menjaga bumi dan umat manusia.
By. Adiyana Adam
Ternate, 02 Agustus 2025

Komentar
Posting Komentar